Nikmat yang satu itu

Uncategorized

Dulu masa sesudah lulus kuliah, saat sedang menunggu pengumuman penempatan instansi, seorang laki-laki bilang ke saya kalau dia akan mengikuti kemana pun saya ditempatkan-bekerja-oleh negara nanti. Sekarang saya tahu kalau itu mungkin hanyalah gombalan belaka, mengingat saat itu dia sedang pedekate dengan saya.

Setelah pengumuman keluar, saya bersyukur luar biasa-meskipun disertai sedikit kekecewaan-saya ditempatkan di salah satu instansi Kementerian Keuangan yang kantornya-satu-satunya-hanya ada di Jakarta. Kenapa saya bersyukur? Karena saya nggak harus keluar pulau, keluar Jawa untuk bekerja. Kenapa saya kecewa? Soalnya saya tidak minat dan tidak ingin tinggal di Jakarta.

Jadi eselon satu tempat saya ditempatkan ini tidak punya instansi vertikal (kantor di daerah) dan itu berarti selama instansi ini masih ada, tidak dibubarkan, saya akan terus berada di Jakarta. Bingung ya? Jadi begini. Pengumuman penempatan lulusan STAN kala itu terdiri dari beberapa tahap:

1. Pengumuman apakah lulusan STAN akan masuk ke Kementerian Keuangan atau instansi lain (saat itu ada 3 pilihan: Kementerian Keuangan, BPK, BPKP)

2.  Setelah pengumuman pertama itu keluar, kita tinggal menunggu pengumuman oleh masing-masing dari tiga tadi, dimana penempatan selanjutnya.

3.  Karena dinyatakan masuk Kemenkeu, saya masih harus menunggu pengumuman lanjutan lagi: di eselon satu mana saya akan ditempatkan (Eselon satu Kementerian Keuangan ada banyak, beberapa contohnya: Inspektorat Jenderal Kemenkeu, Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal Pajak, Bea Cukai, Badan Kebijakan Fiskal, dst)

4. Pengumuman keluar. Saya dinyatakan masuk sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang. Ditjen yang satu ini tidak punya instansi vertikal di daerah, adanya cuma di Jakarta thok. Eselon satu yang punya instansi di daerah contohnya adalah Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai (kasih contoh yang terkenal). Jadi penantian pengumuman penempatan saya stop sampai di situ saja. Sedangkan teman-teman yang masuk Pajak, Bea Cukai, (dan beberapa yang lain), masih harus dag-dig-dug lagi menunggu pengumuman daerah penempatan mereka (yang tersebar di seantero Indonesia). Dan, mereka yang nantinya ditempatkan di daerah juga masih harus menghadapi bayang-bayang mutasi setiap beberapa tahun sekali (jadi bakal pindah-pindah gitu setiap sekian tahun)

Back to the story

Singkat cerita, karena akhirnya saya balik lagi ke Jakarta, jadi ucapan laki-laki tadi tidak bisa dibuktikan kesungguhannya. Pasalnya, selama itu, dia memang sudah sedang bekerja di Jakarta. Jadi tentu saja kembalinya saya ke kota metropolitan ini memberikan kelegaan bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk dia.

Memangnya siapa sih laki-laki yang disebut dari tadi?

Dia adalah….

Eng ing eng….

Tarakdumces!!

Suami saya.

Yap. Dia adalah suami saya sekarang-dan semoga sampai di surga nanti. Aamiin…

Suami saya, sejak lulus kuliah di Semarang, memang langsung merantau ke Jakarta. Dan sejak kali pertama bekerja sampai saat ini, dia sudah beberapa kali pindah kerja. Yah, namanya juga di swasta. Selalu mencari tempat yang lebih baik. Entah itu lebih baik gajinya, lingkungan kerjanya, dst.

Sejak pertama saya kenal dia, sampai sekarang, dia masih setia bekerja di kantor pusat salah satu bank swasta. Dan begitulah, dia sempat berjanji akan ikut kemana saya ditempatkan nanti. Saya tahu dia bisa mengusahakannya. Apalagi kantor cabang bank itu tersebar di seluruh Indonesia juga. Dan memang sepertinya, pengajuan untuk pindah ke daerah di perusahaan swasta lebih fleksibel, lebih gampang dibandingkan pengajuan pindah PNS. Yah, bukannya saya tidak tahu betapa banyak teman-teman saya yang terpaksa harus LDR (Long Distance Relationship) atau LDM (Long Distance Marriage) di luar sana. Dan mendengar cerita di sana-sini, proses pengajuan pindah kerja agar bisa dekat dengan suami/isteri itu lumayan lama dan berbelit-belit. Namanya juga birokrasi.

Sementara itu suami saya, beberapa kali sendiri mendapatkan tawaran untuk pindah ke daerah, dengan iming-iming ini atau itu. Tapi saya selalu berkeberatan. Baru dia bilang kalau ada tawaran saja biasanya saya langsung mrengut, lalu mewek. Cengeng banget yah. Padahal cuma tawaran loh, nggak beneran. Kalau prinsip saya, biarlah kami hidup pas-pasan apa adanya (pas uang habis akhir bulan, pas gajian), asalkan kami bisa makan-tidur satu atap. Tidak hidup berpisah.

Ya, saya amat sangat tau kapasitas diri saya. Yang tidak bisa ditinggal hidup sendiri, berjauhan dari suami. Ditinggal ke luar kota lima hari saja saya galau-segalau-galaunya. Ditinggal di rumah orang tua sendiri, sementara suami tetap di Jakarta, saat cuti melahirkan saja saya sering nangis. Oh, saya nggak akan sanggup kalau LDR-an.

Di lain sisi, kami berdua adalah orang yang dibesarkan di kampung. Di lingkungan yang tenang. Bukan seperti Jakarta. Keinginan untuk pulang kampung dan hidup damai di sana selalu muncul. Beberapa kali pernah terbesit pemikiran: Ayah pulang kampung dulu ya, pindah ke daerah. Nanti Nda nyusul, ngajuin pindah ikut suami. Dan saya-sampai detik ini-selalu menolaknya. Pindah kerja kan nggak gampang? Kalau nanti nggak disetujui gimana?? Dan akhirnya kembali lagi ke pemikiran: Sudahlah Yah, kita kan udah tenang di sini. Nggak usah susah-susah😀

Ketidakmampuan untuk hidup terpisah dari suami itu juga yang membuat saya kekeuh, suami harus tetap jadi pegawai swasta. Dulu sih pas awal menikah, dan ada bukaan PNS Kementerian Keuangan, saya pernah menawarkan ke suami: Yah, daftar PNS. Tapi dia menolaknya dan bilang kalau dia di swasta aja, biar isterinya saja yang PNS. Lalu tahun berikutnya, saat dia sudah mendapatkan gelar pendidikan yang lebih tinggi dan ada bukaan PNS lagi, kali itu dia yang bertanya: Nda, Ayah daftar apa ya? Dan kali ini saya yang bilang nggak usah. Nanti kalau diterima, dia bakal kena peraturan ‘bersedia ditempatkan dimana saja‘ dong? Trus, kalau kita mesti berpisah gimana? Oh noo..

Kalau dipikir-pikir, sepertinya saya terlalu mengekang suami ya? Tapi sungguh, saya tidak bisa membayangkan berkeluarga tapi tidak hidup satu atap. Sampai pada tahap ini, saya selalu salut dan angkat semua jempol tangan dan kaki saya untuk mereka yang bisa menjalani hubungan jarak jauh (LDR/LDM) dengan yang terkasih.

Lalu karena itu, jika saya sedang marah atau ngambek ke suami-lantaran dia sering pulang malam dan membuat waktu pertemuan kami jadi terbatas-dia selalu bilang: Nda, Nda itu harusnya bersyukur, kita masih bisa ketemu tiap hari. Coba bayangin mereka yang cuma bisa ketemu keluarga hari Sabtu-Minggu. Atau temen-temen Nda yang nggak bisa tinggal serumah sama suaminya. Ketemunya cuma sebulan sekali. Kita itu masih jauh lebih baik.

Hiks! Benar juga. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

One thought on “Nikmat yang satu itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s