Belajar jadi pedagang

Uncategorized

Ceritanya, saya beberapa minggu belakangan lagi jualan makanan. Nasi krawu dan nasi kuning buat sarapan. Ngeliat peluang aja di kantor, orang kadang kalo pagi suka malas makan di rumah kan, terus mereka baru sarapan pas udah di kantor. Kebetulan saya suka beli nasi krawu di jalan pas berangkat. Kalo ada yang rumahnya di Cibubur, dan setiap pagi mesti jalan ke arah Cibubur Junction, mungkin tau nasi krawu ini. Dijual pake mobil, di pinggir jalan, udah dibungkus-bungkusin. Jadi kalo beli kita tinggal bayar trus bawa bungkusan. Biasanya saya makan di jalan sambil nyuapin suami :’)

Nah, karena saya suka nasi krawu itu, dan yakin juga kalo orang-orang kantor banyak yang belum tau nasi ini, saya cobalah bawa beberapa bungkus ke kantor, iseng-iseng siapa tau ada yang mau nyobain buat sarapan. Eh ternyata orang-orang pada suka. Senaanng. Jadi setiap saya bawa, dalam beberapa menit aja udah abis. Tapi pernah sekali si nyisa 2 bungkus, itu karena saya nggak menjajakan nasi itu. Cuma ditaroh di meja aja. Akhirnya saya kasih aja ke pemulung.

Karena saya pikir kalo dijejali nasi krawu atau nasi kuning terus setiap hari bakal bikin bosen orang, jadi saya sesekali aja bawa dagangan itu. Seminggu sekali deh. Dan sejauh ini, hampir tiap hari ditanyain sama temen berganti-ganti di kantor: bawa nasi nggak? Rasanya seneenng gitu. Dan herannya, biarpun udah berkali-kali saya bawa, sampe sekarang masih adaaa aja yang belum kebagian. Mereka itu yang dari awal belum pernah nyobain nasinya. Jadi sebelum2nya udah sarapan, atau makan di luar, trus pas udah beberapa kali liat orang makan nasi krawu baru tertarik. Dan sejauh ini pada suka si, dan masih, tiap kali saya bawa langsung ludes.

Etapi, saya belum punya jiwa pedagang. Soalnya saya sama sekali nggak ngambil untung. Belinya sepuluh ribu, jualnya juga sepuluh ribu. Udah gitu, saya nggak peduli siapa yang udah bayar dan siapa yang belum. Hadoohh…. Kalau yang satu ini saya kayaknya masih harus belajar lagi ๐Ÿ˜€

 

Mimpi yang memanggil-manggil

Uncategorized

Sudah sejak berminggu-berminggu mimpi itu selalu datang dan membayangi saya. Mimpi yang selalu saya suarakan dari semenjak hamil, dan semakin sering terdengar saat Raihan datang ke dunia. Mimpi untuk menjadi full time mother. Ya, saya ingin jadi ibu rumah tangga yang bisa fokus mengasuh anak di rumah dan mengikuti setiap perkembangannya. Berbekal mimpi itulah, saya beranikan diri untuk bergabung lagi di bisnis MLM seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya.

Mimpi itu, seolah-olah ada di depan mata. Bahkan sudah terbayang-bayang apa saja aktivitas yang akan saya lakukan. Saya ingin resign dari pekerjaan. Saya ingin menyewa ruko dan memajang barang-barang dagangan saya, busana muslimah, sementara proses transaksi online menjadi nyawa utama bisnis saya. Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas diri dan demi pergaulan, saya hendak ikut kursus jahit dan masak.

Saya membayangkan diri saya berdiri di depan pintu, mengantarkan suami berangkat ke kantor, lalu setelah itu menyiapkan anak sekolah, dan akhirnya mengantarkan dia hingga ke depan sekolahnya. Setelah itu saya akan membuka toko. Siangnya saya jemput anak saya dan kami bisa tidur siang bersama.

Mimpi aja An! Hehehee.. Ya boleh saja dong ya. Apalagi kalau mimpi itu mampu memotivasi kita untuk maju dan berkembang. Sah-sah saja kan?

Apalagi belakangan suami sering melontarkan celetukan: Udah, Nda resign aja, ngurusin Raihan

Atau di lain waktu dia bilang: Nanti kalau gaji Ayah udah banyak, Nda resign deh

Atau tentang dia yang selalu mendukung saya agar tetap semangat menghadapi penolakan demi penolakan.

 

Ah, kapan ya, saya bisa mewujudkan mimpi itu? ๐Ÿ™‚

 

Pelecut

Uncategorized

 

Wah, ternyata udah sekian lama nggak ngisi WP. Lagi sibuk di rumah sebelah. Lagi semangat-semangatnya nulis flash fiction. Jadi nggak begitu berminat buat curhat. Etapii, saya punya cerita baru. Ceritanya lagi mulai terjun ke dunia MLM nih. Pasti langsung pada tau deh apaan. Ahahahahaa… Berawal dari seringnya liat status FB mereka yang udah sukses di bisnis ini, saya jadi terkompori. Gimana-gimana saya dari dulu punya cita-cita buat bisa kerja dari rumah sambil ngerawat anak. Nah, itulah motivasi terbesar saya. Pengeeeennn banget bisa dapat penghasilan tanpa kerja kantoran. Kenapa nggak resign aja sih? Ya gimanapun saya tau diri deh kalau saya dan suami belum mampu kalau harus mengandalkan pemasukan dari satu orang saja. Masih banyak cicilan yang harus kami lunasi. Hutang itu boook..serreemm..

Jadi bismillah aja, berbekal MIMPI, saya nyemplung ke bisnis ini. Masih seumur jagung bangeet, baru semingguan kali. Tapi sudah mengalami beberapa penolakan dong. Patah semangat? Belum sih. Dan semoga jangan pernah deh ya. Semoga ya Allah, semoga… Jujur saya nggak punya jiwa dagang, nggak punya jiwa marketing, nggak punya jiwa bisnis, tapi demi MIMPI, saya coba memberanikan diri dan menebalkan muka.

Kalau cerita sukses? Ya belum ada, lha wong baru mulai. Tapi semoga ya Allah, dalam waktu maksimal 3 tahun saya udah bisa resign. Semoga Allah tidak mematahkan semangat saya walaupun nanti akan mengalami penolakan-penolakan yang lebih banyak dan mungkin lebih kejam ๐Ÿ˜€

Jadi, ada yang tertarik bergabung sama saya?

 

*jiaaahhh..ujung-ujungnya tetep promosi :p

 

Uncategorized

PicsArt_1366182642359

Beberapa hari yang lalu saya melewati lampu merah yang dulu selalu saya lewati saat berangkat kerja, 5 hari dalam seminggu, selama 2 tahun berturut-turut. Dan tiba-tiba rindu itu menyeruak. Saya rindu jaraknya yang hanya 5 menit dari dan ke kantor dengan naik motor. Saya rindu berjalan kaki di sepanjang jalan nan ramai dan bising itu, sesekali mampir ke warung makan, atau warung tenda, atau minimarket, atau tukang buah. Saya rindu kesemrawutan di sana. Saya bahkan rindu tukang ojek yang selalu berebutan mengacungkan tangan tinggi-tinggi setiap kali ada yang orang yang lewat di pertigaan itu. Saya rindu itu semua saya rindu…

2 tahun itu bukan waktu yang singkat. Meskipun dalam jangka itu saya amat sangat jarang ngobrol dengan tetangga, kecuali pengasuhRaihan dan keluarganya, atau dengan ketua RT jika kami sedang ada urusan, saya rindu.

Rumah itu terlihat tua. Katak Bapak pemiliknya, memang rumah masa kecil dari pemiliknya, bukan bangunan baru. Beberapa kayu penyangga terasnya sudah lapuk, dan diperbaiki di tahun kedua kami di sana. Pintu kamar mandi juga sudah jadul sekali. Ubinnya berwarna kuning. Dan kaca-kaca jendelanya mempunyai motif yang antik.

Jalanan depan rumah itu adalah gang kecil yang hanya bisa dilalui motor. Kami selalu saja kebingungan kalau ada saudara yang akan datang. Kami harus mempersiapkan parkir mobilnya di dekat stasiun. Meski begitu, gang kecil itu selalu saja ramai. Dari pagi hingga pagi lagi. Lewat tengah malam masih suka terdengar suara orang lewat sambil mengobrol di gang itu. Dan saya rindu.

Hanya saja lingkungan di sana tidak begitu bagus untuk tumbuh kembang anak. Tetangga depan rumah sering marah-marah, suaranya terdengar sampai jauh. Dan saya tak ingin Raihan terbiasa mendengar suara itu. Narkoba, juga katanya banyak dipakai anak muda di sana. Meski saya percaya diri bisa membesarkan Raihan dengan baik, saya takut dia akan salah pergaulan.

Meski demikian saya rindu. Saya rindu rumah kontrakan kami. Saksi bisu kehidupan awal pernikahan kami.

*gambar di atas adalah foto daerah pemukiman di Senen, seberang kantor, diambil dari lantai 8 gedung tempat saya bekerja

 

Raihan, almost 14m

Uncategorized

 

Sudah lama nggak cerita tentang Raihan. Kangen juga nulis tentang my baby bolo-bolo di blog.

Raihan, 10 hari menuju 14m. Sampai sekarang, sudah bisa apa ya?

Kemampuan motorik

Raihan belum bisa jalan. Jujur, perkembangan motorik Raihan memang sedikit lambat dibandingkan teman-teman seusianya. Saat teman-temannya yang lain sudah bisa merangkak di usia 6-7 bulan, Raihan belum. Bahkan sampai usia 13 bulan kemarin dia masih saja senang merayap-rayap bergembira dengan perutnya. Cepet banget merayapnya. Macam tentara yang lagi latian perang sambil diteriakin komandannya. Sempet cemas juga, karena berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, tahapan merangkak itu wajib dilalui bayi. Walaupun di beberapa sumber lain ada juga yang mengatakan, tanpa melewati tahapan merangkak pun sebenarnya tak apa.

Raihan juga belum menujukkan tanda-tanda akan rambatan, sementara temannya yang berusia satu tahun sudah mulai rambatan, berdiri sendiri, bahkan sudah ada yang bisa lari-lari.

Karena itu, beberapa minggu yang lalu saya bawa Raihan ke klinik tumbuh kembang. Mau konsultasi ceritanya, karena Raihan sebentar lagi mau 13m dan belum bisa merangkak (batasan merangkak untuk bayi adalah usia 13m, sedangkan batasan bayi untuk bisa jalan sendiri itu 18m). Eh ternyata kalau mau terapi, harus ada rujukan dari dokter ya? Ooo…baru tau saya. Nggak jadilah saya konsultasi, karena kebetulan jadwal dokter untuk konsultasi di klinik tersebut juga adanya di hari kerja.

Hari demi hari berlalu, dan kami terus menstimulasi Raihan agar bisa merangkak. Dan sebelum saya jadi berkonsultasi ke dokter, Raihan akhirnya bisa merangkak sendiri. Alhamdulillah… Lega rasanya. Walaupun bisanya sudah di batas akhir, tapi toh akhirnya dia merangkak juga. Batal deh saya ke klinik tumbang. Sempet sedih juga. Saya kok nggak sabar ya? Padahal masing-masing anak punya tahapan perkembangannya sendiri-sendiri. Setiap anak itu unik. Jangan pernah dibanding-bandingkan dengan anak lain. Saya tau teori dan nasihat ini. Tapi ternyata menerapkannya pada diri sendiri itu sulit ๐Ÿ˜ฆ

Jadi sekarang Raihan sedang senang merangkak, dan sedang belajar untuk berdiri sendiri. Doakan semoga Raihan segera bisa jalan yaa.. (Catatan pribadi, Raihan ini memang anaknya sedikit penakut, jadi memang harus sabar :))

Kemampuan berbicara

Beberapa kata yang sudah bisa diucapkan Raihan dengan jelas, antara lain: Ayah, Nda, Mamak (pengasuhnya), mimik, tutu (susu), bebi (baby), dada/tata, nii (sambil nunjuk sesuatu), nyonyo (no-no) atau bisa juga berarti noh (itu)

Raihan juga sudah bisa diajak ngobrol. Intonasi berbicaranya sudah benar. Kalau ditanya menjawab, atau kalau minta sesuatu dia bilang, atau kadang bergumam kayak lagi nyanyi, tapi dengan bahasanya sendiri yang orang lain nggak tau. Contoh:

Raihan: nyonyotoptokptokdadadahiitnoh!!

Ayah: Ooo… iya iya

Raihan: blublbublubnyonyodadada!!

Ayah: Mmm….

-__-

Perkembangan lain:

Raihan kalau bangun tidur dan bangun dengan happy, dia nggak nangis, tapi langsung manggil-manggil: Yaaaahh! atau Ndaaaa!

Raihan di hari kerja suka pergi ke pintu kamar, ketok-ketok pintu, lalu manggil2 ayah dan bunda

Raihan kalau pegang hp langsung didekatkan ke telinga sambil bilang “Yaaaah”

Raihan udah tau kalau remote tv itu untuk menyalakan tv dan ganti channel, tau kalau sisir itu buat nyisir rambut, tau kalau remote kontrol mobil-mobilan buat main mobil, tau fungsi cotton bud (padahal nggak ada yang ngajarin). Raihan kalau pegang Quran langsung tunjuk2 pake jari (diajarin Bundanya gitu). Udah punya gaya joget yg lain. Kalo dulu gaya dengerin musiknya dia sambil godek-godekin kepala, sekarang tangannya ikut bergerak ke kanan kiri. Apalagi ya? Ah, banyak yang lain

Duuh kan, nulis kayak ginian jadi kangen Raihan

Maafin Bunda yang nggak bisa selalu mendampingi perkembangan kamu ya Nak. Semoga Raihan sehat selalu, makin cerdas, dan soleh. Bunda always love you :-*

Raihan pake cotton bud. Percayalah, dia tidak sungguh-sungguh membersihkan telinganya ๐Ÿ˜€

 

Perbedaan Prinsip

Uncategorized

Beberapa hari yang lalu, Raihan mendapat goodie bag dari salah seorang sahabatnya di kompleks yang akan merayakan ulang tahunnya yang pertama. Bisa dibilang, anak yang satu ini soulmatenya Raihan karena sering main bareng.ย  Main di taman bareng, makan siang bareng, mainan di dalam rumah, dst. Raihan dengan mamak pengasuhnya, dan sahabatnya juga dengan pengasuhnya. Sebenarnya ibu si anak statusnya stay at home mother, tapi biasanya yang ngajak jalan-jalan keliling kompleks itu pengasuhnya.

Goodie bag yang didapat Raihan terdiri atas 2 macam. Satu isinya snack-snack makanan ringan dari satu brand, satunya lagi isi barang-barang: penggaris, notes, botol minum, wadah makan, beberapa komik tipis tentang superhero luar negeri-sepertinya bonus dari salah satu produk keluaran brand tersebut.ย  Fyi, ayahnya temen Raihan ini kerjanya di salah satu multinational corporation (MNC) yang fokus di industri makanan (pasti pada tahu lah ya, qiqiqi).

Goodie bagnya datang duluan, tapi ulang tahunnya belakangan.

Nah, karena mamak ngasih tau kalau ulang tahun si bocah ini akan diadakan hari Minggu kemarin, otomatis saya sebagai Ibunya Raihan pengen kasih kado dong ya. Sebenernya si nggak ada undangan untuk temen-temennya di kompleks, tapi karena tau aja bakal ada perayaan, jadi saya dan orang tua-salah-satu-temen-si-bocah-yang-lain berinisiatif untuk datang dan ngado.

Naah, jadilah kemarin saya dan si ayah hunting kado buat anak laki-laki usia satu tahun. Salah kami juga sih nyarinya mepet. Dikasih tau kalau jam 10 perayaannya, saya dan suami baru keluar jam 9. Secara saya ngerasa kalo nyarinya nggak susah, di kompleks ada baby shop bisa nyari di sana. Atau di depan gerbang juga ada toko mainan. Jadi nggak usah pergi jauh-jauh deh, pasti cuma bentar aja.

Ternyata eh ternyata, toko mainan sebagai tujuan pertama tutup. Saya dan ayah pun ke baby shop, yang mana bisa ditebak dong kalau harga di sana tuh lebih mahal. Ternyata di babyshop langganan saya itu nggakย  ada mainan. Dikiit doang. Trus nggak ada yang sreg juga. Sebenernya ini si suami yang udah nggak sreg si, jadi ya saya nurut aja deh.

Beralihlah kami ke salah supermarket, Giant, di deket gerbang utama kompleks juga.

Nah, dalam perjalanan ke sana, saya sama suami sedikit berdebat.

Suami: Cari kado tuh nggak usah yang mahal-mahal

Saya: Bukan masalah mahalnya Yah, tapi menurut Nda, kalo kita ngasih ke orang itu ya yang bagus. Yang bisa bikin orang yang dikasih seneng.

Suami: Ah, kado itu kan cuma formalitas doang. Anak kecil juga belum ngerti kado

Saya: Bukan itu. Kalo prinsip Nda sih kita kalo ngasih ke orang itu ya yang terbaik. Emang si, anaknya belum tau, tapi kan orang tuanya tau. Nda kalo Raihan dikado bagus juga pasti seneng

Mulai keliatan deh, kalo kita beda pandangan.

Sampai di Giant, milih-milih lah kita mainan yang cuma seadanya ada di sana. Giant di deket kompleks ini lengkap sebenernya, tapi karena dia bukan terletak di jalan utama, jadi nggak gede-gede amat. Nggak selengkap Giant yang lebih gede. Mainannya juga cuma dikit. Setelah menentukan mainan yang akan dijadikan kado, saya tentenglah itu di satu tangan. Sambil liatin yg lain siapa tau ada yang lucu buat Raihan.

Nah, pas suami liat tentengan saya itu kok dia malah bilang:ย Raihan dibeliin mainan yang kayak gitu juga, yang mendidik. Ealaaah, ternyata si ayah ngirian juga. Anak lain punya mainan A, dia mau anaknya juga punya mainan A. Lha, ini kok yang pengenan malah orang tuanya sih? *tepokjidat.ย  Baiklaaah, saya sebagai isteri nurut aja. Toh mainan yang itu masih ada satu stok. Tapi setelah diliat, ternyata mainan yang satunya sudah rusak. Hiks hiks! Dan si ayah suruh saya cari mainan lain. Itu mainan yang tadi udah saya pilih, buat Raihan aja. Padahal menurut saya udah nggak ada yang bagus lagi di situ. Sebenernya agak mangkel dalam hati. Saya liatin satu demi satu mainan yang, asli deh, saya nggak ada yang suka. Dan terpaksa ngambil salah satu buat kado. Udah siang juga. Jadi nggak bisa cari di tempat lain.

Haiissh, bahkan setelah hampir tiga tahun gini, saya masih suka terkaget-kaget dengan jalan pikiran suami ya. Memang, pernikahan itu adalah proses memahami pasangan seumur hidup. Sampe sekarang, jujur, masih agak sebel kalo nginget kejadian kemarin. Tapi, Bunda tetep-akan-selalu sayang Ayah koookkk, sweeaarr ๐Ÿ˜‰

*gambar diambil dari sini

 

Komunitas-komunitas

Uncategorized

Komunitas adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values (Kertajaya Hermawan, 2008)

(sumber dari sini)

Komunitas=sekelompok orang+peduli+ada kesamaan interest/value

Bisa disimpulkan kalau komunitas adalah sekumpulan orang yg mempunyai kesamaan ketertarikan, dan saling peduli satu sama lain. Ya nggak? Selain komunitas yang terbentuk secara offline (yang dalam pertemuannya harus tatap muka langsung), komunitas jaman sekarang banyak yangย  online, dimana para anggotanya tidak perlu bertemu muka, cukup membutuhkan jaringan internet saja, lalu mereka sudah bisa berdiskusi di dunia maya. Hari gini gitu loh, dimana teknologi berkembang pesat dan merata sampai ke sudut negeri. Dimana kita bisa akses internet, di situ kita bisa bergabung dalam komunitas dunia maya.

Sekedar pertanyaan untuk diri sendiri: penting nggak sih kita ikut komunitas-komunitas gitu? Secara belakangan ini tersebar banyaaaakk banget komunitas online di internet. Komunitas untuk para crafter, komunitas fotografer, komunitas blogger, komunitas kutu buku, komunitas penulis,ย  komunitas resensor buku, komunitas baker, aaahh you name it!

Kalau untuk para emak, ibu-ibu, mommy, juga banyak banget tuh komunitas yang bisa kita ikutin (kalau grup-grup di fb itu, bisa juga disebut komunitas kan?) Mungkin karena ini sudah fitrahnya wanita ya, yang selalu ingin bergabung, berteman, berkumpul, rame-rame, seru-seruan, jadi banyakย  komunitas yang dikhususkan buat kaum hawa. Soalnya saya jarang nemuin komunitas buat bapak-bapak sih. Ya ada si, tapi paling satu dua saja. Nggak sebanyak komunitas buat ibu-ibu.

Saya sendiri, sampai sekarang tergabung dalam beberapa komunitas. Buat saya yang beberapa saat kemarin baru saja melahirkan seorang bayi lucu, saya butuh dukungan dan tentunya pengetahuan yang cukup tentang masalah mengurus anak. Saya gabung aja di grup fb, seperti: Tambah Asi Tambah Cinta, Homemade Healthy Baby Food, Gesamun. Lalu ikut join juga di The Urban Mama. Kalau sebagai blogger, saya dulu tergabung dalam MPID/Mutiply Indonesia (eh, itu tapi nggak pake daftar, otomatis aja setiap MPers pasti jadi bagian dari MPID), dan baru-baru ini di KEB (Kumpulan Emak Blogger).

Saya nggak rajin-rajin amat posting. Paling posting artikel sekali-dua di TUM, tanya2 masalah anak di TATC, sisanya nyumbang komentar aja kalau ada yang bisa dikomenin ๐Ÿ˜€

Biarpun lebih sering jadi member pasif, saya ngerasa terbantu banget ikut komunitas-komunitas itu. Ada banyak pengetahuan baru, pengalaman-pengalaman baru, juga kenalan baru yang saya dapet. Juga kecepatan respon dari member lain, jika kita butuh bertanya tentang suatu hal (khususnya di sini komunitas untuk para ibu perihal perawatan anak).

Intinya, saya happy bergabung dengan mereka.

Kalau kamu, ikut komunitas apa?

 

Bagaimana menjadikan tubuh menjadi lebih berisi?

Uncategorized

Bukan, ini bukan postingan yang berisi tips n trick menggendutkan tubuh. Ini murni pertanyaan pribadi: gimana ya caranya membuat tubuh menjadi lebih berisi? Berisi lho ya, catet! Berisi. Berisi itu maksudnya lebih montok, tapi nggak sampe over montok. Jadi ini ngomongin Raihan? Bukan juga. Ini ngomongin saya dan suami. Woow tak dikira ternyata saya yang dulunya selalu merasa sedikit kegendutan, sekarang punya pemikiran untuk menaikkan timbangan badan. Sifat dasar manusia, tak pernah puas ๐Ÿ˜ฆ Pengurusan badan ini terjadi semenjak saya melahirkan, lalu berlangsung lagi saat awal menyusui Raihan, dan itu bertahan sampai sekarang. Entah berapa orang sendiri yang komentar: Andiah kurus yaa.. Dan itu yang bikin saya selalu melihat ke cermin dan bilang: Iya, kurusan ya. Tambahin dikit berat badanmu An ๐Ÿ˜€

Kalau suami, emang nih saya penasaran banget gimana cara menaikkan berat badannya. Secara dia itu orangnya kecil (nggak mau ngomong kurus ah) dan nggak begitu doyan makan. Nggak suka ngemil pula. Saya sampe heran lho, ada ya cowok yang kayak gitu. Saya pikir semua cowok itu suka makan ๐Ÿ˜€ Bukan berarti saya nggak suka dia yang sekarang ya. I love you the way you are, honey. Tapi saya pengen melihat dia yang lebih gemuk. Biar nggak dikira saya nggak becus ngurus suami. Hehehehe..

Oya, demi mendukung keinginan itu, saya sampe beli madu yang-dalam tulisan di wadahnya-berkhasiat meningkatkan nafsu makan. Tapi belum dicoba siiih, wkwkwk.. Kayak anak kecil aja ya, diberi penambah nafsu makan.

Btw, menurut kamu, tubuh ideal itu yang kayak gimana sih? Yang tinggi langsing, sedang, gemuk, atau gimana? Trus trus, menurut kamu, kamu udah ideal belum? Share dunks ๐Ÿ˜‰

Belajar Food Fotografi

Uncategorized

Repost, dari postingan saya di rumah satunya di sini

Ini tentang food fotografi. Saya belum suka masak sih, tapi suka foto-foto makanan. Dan ini beberapa hasil keisengan saya. Langsung check this out aja yah

Urap sayur

Sayur bayamnya Raihan diminta dikit :p

Yang doyan jengkol siapa hayo ngakuu, nggak usah malu-malu :p

 

Maklumin deh yaa kalau keliatan masih berantakan, masih pemula banget soalnya, hehehe