Kompromi ASI

ASI

Dulu, jauh hari sebelum melahirkan Raihan, saya selalu kampanye ASI ke mas suami. Saya bilang pokoknya dia harus jadi ayah ASI. Harus mendukung ASI, harus ini harus itu. Apa daya, ternyata dia tidak setangguh yang saya kira. Sehari pasca melahirkan, saat ASI saya belum keluar, dia bukannya mendukung saya untuk terus menyusui Raihan, malah menyarankan agar saya memberi Raihan sufor saja. Tentu saja dengan senang hati saya menolak dan menentangnya keras2. Alhasil, saya sempet marah2an dengan suami, sempet dimarahi habis2an juga olehnya, juga oleh ibu dan ibu mertua saya. Pokoknya saya sendirian waktu itu, dan karenanya saya semakin babyblues😦

Alasan mereka sebenarnya sederhana saja: kasian Raihan yang terus-terusan nangis. Haus. Alasan saya juga sederhana-dan sangat idealis-ingin memberikan ASI Eksklusif untuk Raihan. Yang akhirnya entah dikatakan berhasil atau tidak karena sekian hari pertama Raihan ASI disambung sufor.

Demi menanggulangi kejadian itu berulang-lagi, sejak kemarin2 saya udah wanti-wanti ke mas suami. Kurang lebih bergini percakapan kami waktu itu

Saya: “Yah, ayah mau nggak janji ke Nda?”

Suami: “Mau”

Saya: “Beneran ya?”

Suami: “Janji apa?”

Saya: “Nanti kalo little baby lahir, Ayah jangan paksa Nda kasih sufor”

Suami: “Iya, janji”

Saya: *tercengang* “Kok gitu? Kok Ayah berubah?”

Suami: “Ayah udah sadar sekarang”

Setelah saya cari tau, ternyata mas suami sadar karena dari pengalaman teman sekantornya yang laki-laki, saat istri sang teman habis lahiran, malah dia yang kekeuh mau anaknya ngasi saja, sementara isterinya kasihan dan pengen kasih sufor.

Saya: “Kok, temen ayah tau gitu tentang ASI?”

Suami: “Katanya dia browsing, cari tau”

Saya dalam hati: Naaahhh itu baru ayah ASI

Saya: “Jadi nanti kalo ASI Nda belum keluar, Ayah jangan maksa Nda kasih sufor ya?”

Suami: “Mmmm… Kalo gitu, kalo Nda lahiran, 3 hari pertama Ayah mau tugas keluar kota aja”

Saya: “Jiaaaaahhhhh!!! Ternyata belum berubah!!”

Hmm… Jadi sekarang kuncinya adalah, perawatan supaya nanti begitu lahiran ASI langsung keluar, soalnya mas Suami juga belum bisa terlalu diandalkan untuk pro-ASI. Semangaaattt!!

6 thoughts on “Kompromi ASI

  1. Saya masih bingung mbak, kalau asi itu pasti semua ibu akan keluar? Atau nggak. Trus kalau nggak keluar2 gimana? Mosok anaknya dibiarin haus?
    Mohon pencerahan😀

    1. Setiap ibu melahirkan, pasti akan keluar ASI, cuma ada yang langsung keluar setelah melahirkan, ada yang butuh waktu beberapa hari sampe ASInya keluar (bahkan ada yang lagi hamil udah keluar)

      Sementara, bayi itu, dalam 3 hari kelahiran pertamanya masih menyimpan cadangan makanan yang dibawanya. Jadi kalo 3×24 jam nggak minum, atau nggak ngASI juga gapapa, belum akan lapar

      Tapi namapun ayah sama eyang-eyang, liat bayi nangis kan pada nggak tega, jadi mereka pada nyuruh ngasih sufor, gitu. Sementara aku ibunya pengetahuannya ya kayak itu tadi, 3×24 jam tanpa minum pun gapapa😀

  2. yang penting jangan kepikiran kalau “gimana nanti kalau asinya nggak keluar!”
    khawatir menjadi suggesti dan ASI terhambat keluar. jadi sebaiknya…. rileks… tenangkan pikiran… bismillah…
    🙂

  3. sama kayak aku An, cuma bedanya misuaku ikut keukeuh mendukung ASIX
    jadinya malah berantemnya sama bidan di RS, hehe..
    semangat terus ya bumil \\(^o^)//
    *sorakin dari pinggir pake pompom*

    1. Alhamdulillaah..paling nggak ada pendukung di deketnya
      Aku sampek waktu itu malah curhatnya ke temen-ceweknya suamiku
      Secara dia pro ASI banget, dan dia juga akhirnya nasehatin suamiku (by phone)
      Tapi ya gitu deeh, ga gitu berhasil, mungkin ga tega liat anak sendiri nangis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s