(Curhat) Tentang tolong-menolong

curhat, life, pengalaman pribadi

Di sela-sela pekerjaan dan badan yang kurang fit lantaran semalam sampe rumah jam setengah satu dinihari (sedang ada konsinyering jadi pulang malem), saya tiba-tiba pengen curhat. Lupakan sejenak deadline yang harusnya dari kemarin dikumpulin tapi nggak ditagih2 sama yang punya hajat.

Jadi, awal cerita bermula saat saya dan suami (beserta bapak, ibu, dan adek saya yang sengaja datang ke Jakarta) menghadiri resepsi pernikahan saudara kami nun di Tangerang sana. Kejadiannya siang hari, saat siap-siap akan pulang, kami sholat dzuhur dulu. Kebetulan gedung resepsinya bersebelahan dengan sebuah masjid besar, jadi banyak tamu yang menghadiri resepsi numpang istirahat gegoleran di sekeliling masjid yang megah itu sambil sekalian sholat dzhuhur.

Nah, sewaktu lagi ngadem di serambi masjid, suami saya didatangi seorang laki-laki, usia kurang lebih sepantaran deh dengan suami, bawa anak kecil perempuan, penampilan sedikit lusuh. Ternyata laki-laki itu mau pinjam hp buat telepon (atau sms?) orang. Karena merasa sedikit was-was dan kurang percaya, suami pun tidak meminjamkan hp kepunyaannya, tapi meminjamkan hp adek saya-yang katanya lebih jelek, jadi nggak papa dipinjemin. Singkat cerita, ternyata laki-laki tadi mau menghubungi seseorang yang mungkin bisa dimintai tolong untuk mengatasi masalahnya saat itu. Laki-laki itu nggak punya hp, jadi dia pinjam. Saya kurang jelas di bagian ini. Jadi, kata suami, laki-laki itu sedang menunggu orang yang mau datang ke sekitar situ dan bisa dimintai tolong. Entah memang sudah janjian, atau dia sudah menghafal kedatangan orang yang dihubunginya.

Lalu mengalirlah cerita dari laki-laki itu kepada suami saya. Selanjutnya kita sebut saja laki-laki itu dengan sebutan A. A ceritanya sedang mengalami musibah, anak keduanya sedang kena diare parah dan dirawat di RS. Tapi A tidak punya uang untuk menebus obat yang diresepkan dokter, jadi dia menghubungi orang yang sekiranya bisa membantunya. Sementara anak pertamanya, perempuan kecil yang dibawanya, sakit epilepsi dan sewaktu-waktu bisa kambuh. Dengan memelas dia bercerita kepada suami saya sambil menunjukkan lembaran resep dari RS yang belum bisa ditebusnya. Karena penasaran dengan ceritanya, suami saya pun menelepon nomor yang tertera dalam lembaran resep itu. Setelah tanya-tanya dan menggali informasi ini itu, ternyata benar kalau memang anak A sedang dirawat di sana. Karena kasihan, suami pun memberikan sejumlah uang tak banyak kepada A. Saat dikenalkan ke saya dan Raihan, A berkali-kali mengucap terima kasih kepada kami.

Tak lama setelah istirahat, saya dan rombongan pun berencana untuk segera pulang ke Cibubur. Sebelumnya, suami memberikan nomor telepon kepada A kalau-kalau A membutuhkan bantuan.

Tak lama berselang dari hari itu, suami ternyata dihubungi oleh A, bilang kalau anaknya masih di RS karena dia tidak bisa membayar biaya perawatan. Oleh suami, A disuruh mengurus surat tidak mampu sehingga dia tidak perlu membayar biaya RS. Suami sebisa mungkin membuat A proaktif dan mau berusaha terlebih dahulu. Tapi di lain sisi dia juga kasihan. Nah, suatu waktu suami cerita soal A ke teman-teman kantornya, dan menawarkan siapa tau ada yang mau membantu A, nanti uangnya disalurkan oleh suami. Tak disangka, ternyata teman-teman suami merespon positif, mereka langsung menggalang dana. Ada yang langsung di tempat sesaat setelah suami cerita, ada yang transfer ke rekening suami. Lumayan juga dana yang terkumpul.

Karena merasa bertanggung jawab, weekend berikutnya suami mengajak saya kembali ke Tangerang untuk menyerahkan dana sumbangan yang terkumpul kepada A. Berangkatlah kami dari Cibubur ke Tangerang. Raihan tentu saja tidak ikut karena kami akan berkunjung ke rumah sakit, bukannya mau piknik atau jalan-jalan. Akhirnya setelah muter-muter, kami pun sampai di RS yang dimaksud A. Di sana kami tidak langsung bertemu A. Adanya selisihan melulu. A jemput ke luar rumah sakit, kami masuk ke dalam. Kami ke ruang perawatan anak, A entah dimana mencari kami. Masalahnya A kan tak punya hp, jadi kami bergantung sekali menunggu panggilan darinya yang gonta-ganti nomer (hasil meminjam hp milik entah siapa di luar sana). Kami sudah ada di luar bangsal perawatan anak sebenarnya, tapi mau masuk enggan karena tak tau isteri dan anaknya yang mana, takutnya nanti malah salah orang. Akhirnya setelah proses menunggu dan saling mencari, saya dan suami bertemu lagi dengan A dan anak perempuannya yang selalu dibawanya kemana-mana. Kami pun masuk ke dalam bangsal perawatan dan bertemu dengan isteri dan anak keduanya yang memang sedang sakit.

Di sana kami sempat cerita-cerita lagi, soal bagaimana A sudah mendapatkan surat keterangan tak mampu sampai tingkat kabupaten dan akhirnya biaya RS digratiskan. Tapi selama perawatan beberapa hari sebelumnya A sudah mengeluarkan biaya sejumlah sekian ratus ribu yang uangnya didapat dari menjual perabotan rumah. A juga cerita kalau selama anaknya sakit dia tidak bisa kerja jadi tidak ada pemasukan sama sekali. Oiya, A dan isteri tidak punya saudara. Orang tua (salah satu antara A dan sang isteri) sudah tak ada, jadi tinggal ada satu orang tua saja dan mereka juga sama miskinnya, hingga tak sempat menjenguk cucunya di RS. Jadi waktu saya dan suami datang mereka senaaannngg sekali. Katanya kamilah satu-satunya orang yang datang menjenguk anak mereka, sementara ranjang pasien lain di kanan dan kiri selalu dipenuhi sanak saudara yang datang.

Siang hari kami pamit untuk pulang, setelah sebelumnya menyerahkan uang sumbangan untuk A. Suami berpesan agar uang itu digunakan sebaik-baiknya, sebisa mungkin untuk memulai usaha lagi karena biaya RS kan sudah digratiskan jadi tak perlu bayar lagi.

Sekian lama, kami tak dengar kabar berita dari A sampai suami cerita kalau A menghubunginya lagi kemarin. Kali ini, katanya, anaknya sakit cacar air. Saya bilang ke suami kalau cacar air itu penyakit normal yang bisa dialami semua orang, dan perawatannya bisa dari rumah. Memang awalnya ada demam, tapi kalau demamnya sudah sembuh, tinggal masa pemulihan saja (bener gitu gak sih?). Dan selama pemulihan itu pun, kan bisa dilakukan di rumah tanpa obat. Setau saya kalaupun ke dokter nanti kita akan dikasih obat untuk dicampurkan ke air mandi, atau dengan cara tradisional semisal menempelkan parutan jagung muda juga bisa memulihkan lukanya. Kok kayaknya gimana gitu anaknya kena cacar air yang dihubungi malah suami.

Dan pagi tadi, dalam perjalanan ke kantor pun, suami ditelpon berkali-kali oleh A. Ada kali 5 kali telpon dan tidak diangkat karena kami masih di jalan, lagipula kami belum menentukan mau mengambil sikap seperti apa. Saya sih nggak masalah kalo ada orang yang minta bantuan, selama kami mampu insya Allah dibantu. Tapi saya kok jadi merasa A itu terlalu bergantung pada kami, dan mungkin akan lebih menjadi-jadi lagi kalau kali ini diberikan bantuan seperti sebelumnya.

Menurut teman-teman, kami harus gimana?

17 thoughts on “(Curhat) Tentang tolong-menolong

  1. Hadeuh, kok malah jadi keterusan…. Kayaknya yang kali ini nggak perlu dikasih bantuan dalam bentuk uang. Kasih tau aja cara penanganan anak cacar air, misalnya yang pake parutan jagung atau daun sirih yang dicampurin ke air mandi. Itu kan nggak perlu uang banyak.
    Supaya dia juga nggak keenakan, merasa ada orang yang selalu siap menolong. Nantinya dia jadi nggak mau usaha dong.
    Atau bantuannya dalam bentuk doa aja deh… biar anaknya cepet sembuh gitu….🙂

    1. Iya, iya Teh, aku juga berpikiran kayak gitu
      Tapi antara ragu seharusnya nolongin atau enggak sih?
      Kalo nolong takut dianya keterusan
      Kalo enggak, Siapa tau dianya emang butuh banget bantuan, ah entahlah, bingung
      Nggak tau deh akhirnya telponnya diangkat enggak sama suami

  2. kalo cacar air, asal asupan gizi sama istirahat cukup, in shaa allah cepet sembuh kok, Ndi.
    Ehm… kalo udah kayak begini ceritanya… aku no comment. Sorry ya, nggak bisa kasih saran apa2. Bukan termasuk orang yang hobi nolongin orang yang ‘manja’ nih, akuuuu….😆

    1. Iya nih, serba salah juga
      Takut kalo dibaikin jadi keterusan
      Tapi takut juga kalo emang dia butuh bantuan serius
      Trus takut lagi kalo nolongin jadinya malah ga ikhlas kan, nih cerita ginian juga udah keliatan ga ikhlasnya nolongin yak, ehehehee :p

      1. ikhlas itu hanya kita dan ALLAH yang tahu, Ndi…
        menurutku, cerita yg beginian ini justru penting buat pelajaran bagi yg baca. Dan nggak bisa dooonngg, menilai keikhlasanmu dari situ, Ndi…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s